Sabar, Ikhtiar dan Tawakal



Selama ini, setiap pelaksanaan ibadah sholat Jumatku selalu gagal meninggalkan jejak perubahan yang baik pada perilakuku sehari-hari. Yang menjadi sebab yaitu pada saat khatib naik mimbar menyampaikan nasehat, peringatan dan seruan yang disertai nukilan dan uraian ayat-ayat dari Al Quran, aku lebih sering lelap dimangsa kantuk. Jikalau sukses menahan kantuk itu terjadi karena pikiranku liar berkelana memikirkan dan mengkhayalkan sesuatu yang jauh di luar masjid.

Namun pada ibadah sholat Jumat tadi, tubuh dan pikiran ini begitu terjaga sejak mendudukkan diri di lantai marmer yang dingin. Mata awas menyapu segala yang ada di masjid, dari jam digital baru, fan yang berputar kanan-kiri. Telinga juga seksama menyimak pengurus masjid yang menyampaikan laporan keuangan masjid. Nah, sejujurnya ada satu alasan yang membuatku berazzam untuk menahan pikiranku berkeliaran dan fokus dengan khutbah yang nantinya akan disampaikan.



Saat jelang khatib naik mimbar itu aku tak sengaja melihat temanku persis di samping kananku terpejam matanya. Teman ini adalah rekan kantor yang pernah menuliskan pengalaman saat beribadah sholat jumat. Ingatan pada notes yang istimewa itu tiba-tiba menjadi motivasi untuk menyimak khutbah lebih khusyuk untuk nantinya mencoba menuliskan kembali atau setidaknya notes tersebut menjadi pengingat-ingat agar penyesalannya tidak terjadi juga padaku. Berikut ini materi yang disampaikan oleh khatib yang bernama bapak Abdul yang sebelumnya diselingi oleh adzan oleh bapak Abdul yang lain.

Materi khutbah pun diantar pada momentum tahun baru yang belum lama berselang. Baik tahun baru hijriah atau tahun baru masehi (khatib menyebutnya tahun baru nasional). Kemudian khatib menyeru bahwa kehidupan itu idealnya dijalankan dengan tiga nilai yaitu sabar, ikhtiar dan tawakal. Aku lupa dimana benang merahnya antara tahun baru dengan melakoni hidup dengan tiga acuan itu.

Sabar adalah sifat yang dimiliki para nabi. Dicontohkannya tentang kesabaran yang luar biasa dari Nabi Ibrahim, Nabi Yakub, Nabi Ayyub dan Rasulullah Muhammad SAW. Tentang nama-nama nabi yang disebutkan itu aku agak lupa terutama antara Nabi Yakub dan Nabi Ayyub, apakah disebutkan keduanya atau salah satu diantara dua nama itu. Namun dijelaskan bahwa diantara kesabaran yang dilakukan oleh para nabi itu diantaranya dalam hal bersabar pada keturunan yang tak kunjung datang, pada sakit dan kemiskinan yang mendera, pada perlakuan kaum yang menentang ajaran-ajaran yang disampaikan. Maka sabar itu tidak ada batasnya. Ditambahkan oleh khatib bahwa sabar itu memiliki tiga level sambil dibacakannya Surat Ali Imran: 200.

Ikhtiar adalah lanjutan dari sikap sabar. Masih dengan contoh para nabi, disebutkan bahwa dalam sikap sabarnya mereka tetap berikhtiar mencari jalan keluar dari berbagai kesulitan dan cobaan yang mereka terima. Beberapa anjuran untuk para jamaah sholat jumat adalah untuk ikhtiar dengan tetap bekerja keras, mencari kekayaan dunia, membuat lingkungan sejak dari keluarga hingga negara menjadi lebih baik. Sampai disini pikiran mulai hilang kendali memikirkan wujud tulisan yang bakal dihasilkan.

Tawakal, ingatan tentang bab pembahasan ini semakin remang-remang saja. Intinya, penyempurna ikhtiar adalah sikap tawakal. Setelah semua usaha telah diupayakan maka jalan terakhir adalah bertawakal menyerahkan pada Allah.

Sepertinya saat menuliskan ini aku terlalu keras juga untuk mengingatnya. Tak apalah. Justru ikhtiar ini sudah mengantarku untuk membuka Quran digital, kisah para nabi dan ingatan pada obrolan dengan keponakanku yang cantik nan kritis tentang para nabi kemarin saat sore menunggu buka puasa. Dari membuka dan membaca file-file di laptopku, ingatanku disegarkan tentang Nabi Ayyub sebagai simbol kesabaran. Dan pada dasarnya tema yang disampaikan memang relevan dengan kondisi batinku saat ini. Aku harus memulai masa transisi ini dengan sabar karena berstatuskan unemployment. Kemudian mesti memperbanyak ikhtiar untuk memperbaiki keadaan. Selanjutnya baru bertawakal apabila semua ikhtiar maksimal sudah ditunaikan. Inilah hidup, selamat berkesinambungan bung!

Oh, aku mesti bergegas ke Stasiun Senen menjemput temanku dari Jogja yang bernama Abdul…

No comments:

Post a Comment