13 Tahun BIGREDS, Sebuah Kontemplasi

desain oleh Agung Priambodo

Tanggal 28 Desember ini adalah peringatan hari lahir BIGREDS yang ke-13 kali. Perayaan sebagai bentuk peringatan atas salah satu peristiwa paling bermakna dalam perjalanan eksistensi komunitas ini bisa saja berbeda pada setiap tahun juga pada setiap regional. Bahkan perayaan pun sangat mungkin tidak dilakukan. Tapi tentu ada pertanyaan yang biasa berkelebat dalam pikiran untuk direnungkan tanpa bisa diabaikan. Tanpa perenungan, peringatan akan menjadi tanpa makna seperti berlalunya hari yang biasa.

Setiap member komunitas ini punya pertanyaan masing-masing untuk direnungkan. Dan buat saya pribadi pertanyaannya adalah: “Apa manfaat yang saya dapat dengan bergabung dengan BIGREDS?”

Maafkan Kami Diego


Tidak banyak peristiwa kematian yang saya tangisi. Yang sedikit itu termasuk pada kematian Diego Mendieta. Dia yang tulang punggung keluarga, meninggal dunia tanpa didampingi keluarga dan jauh dari tanah kelahirannya. Saya membaca setiap berita tentangnya dengan dada sesak menahan haru dan mata panas menahan tangis. Apa sebabnya air mata ini hendak keluar untuk orang yang tidak saya kenal?


Hikmah Lukisan Afrika Selatan


Pada mulanya adalah tulisan yang diunggah di media sosial bernama facebook. Salah satu dari sedikit tulisan kasual yang bisa dibuat di tengah hiruk pikuk kehidupan ibu kota. Momentum Piala Dunia 2010 ternyata mampu membujukku untuk sekadar iseng menulis. Dengan sifatnya yang kasual dan diniatkan untuk dikonsumsi pribadi, maka tulisan tersebut pun diunggah di facebook sebagai notes. Tapi siapa nyana kalau tulisan yang awalnya dimaksudkan sebagai sarana pelepas beban dan bacaan ringan pribadi justru nongol di tabloid olah raga nasional yang bertiras ratusan ribu, tabloid BOLA. Adalah Andhika Suksmana, saat itu presiden BIGREDS, yang berjasa “menggolkan” tulisan tersebut sehingga terpampang nyaris satu halaman penuh di halaman 12, andai tak ada iklan.

Jejak Merah di Jogja

courtesy of BIGREDS

Membuat tulisan tentang salah satu hajatan hebat BIGREDS jelas memiliki kesulitan sendiri. Adalah Iman Shofi yang saat itu bertanggungjawab di redaksi Majalah Walk On yang memintaku menulis tentang Gathering Nasional BIGREDS di Jogjakarta. Hajatan kumpul antar member BIGREDS dari berbagai kota di Indonesia memang, menurutku, masih yang terhebat entah karena alasan apa. Bukan yang terbanyak dari segi peserta, bukan pula yang tercanggih dari dukungan sarana, prasarana dan teknologi penyelenggaraan, tapi memang ada semacam kesan atau mungkin aura yang membuat acara ini benar-benar meninggalkan kesan yang begitu mendalam pada para pesertanya. Sekadar penilaian pribadi, yang pasti subyektif.

Mencicil Kejayaan


Tak pelak ini merupakan salah satu tulisanku favoritku. Tanpa banyak alasan, suka saja. Tulisan ini dibuat untuk diikutsertakan dalam Kuis Menulis 2008 yang diselenggarakan oleh Forum BIGREDS. Meski sudah ada niat sebelumnya, tak dipungkiri kalau kemantapan hati ada karena dorongan dari teman-teman BIGREDS regional Jogjakarta. Mereka beranggapan sebaiknya ada wakil dari Jogja yang menunjukkan bukti partisipasi pada kegiatan yang dihelat oleh Forum BIGREDS.

Proses menulisnya relatif lancar, tiada tergesa-gesa, begitu bisa dinikmati. Tidak juga dipusingkan dengan kegiatan mencari data-data yang rumit, hanya perlu sesekali saja ke warung internet (warnet). Keseluruhan proses menulis dikerjakan di sebuah kamar kos di lantai dua kos D7 yang berlokasi di daerah Tawangsari. Dengan mencantumkan nama dan nomor member 14 01 1259 maka terkirimlah buah pikiran itu melalui surat elektronik.

Kenikmatan pun terus berlanjut pada saat proses penjurian, tidak ada beban karena memang sedari awal tidak dimaksudkan atau ditargetkan untuk menang. Ketika dinyatakan menang pun tahu karena diberi selamat oleh teman. Akses atas internet hanya bisa didapatkan bila menggunakan jasa warnet. Pengumuman pemenang diunggah pada hari Selasa, 3 Februari 2009 di Forum BIGREDS. Kualitas tulisan para peserta lainnya bagus-bagus, sepertinya kebaikan para jurilah yang memenangkan tulisanku. Sebagai ganjaran adalah sebuah wind break Liverpool FC dan status Writing Contest - Winner 2008 di bawah username Forum.

Keberadaan Kuis Menulis itu sendiri sempat rumpang sampai dihidupkan kembali pada tahun 2012. Partisipasiku di Kuis Menulis 2012 bukan lagi sebagai peserta namun menjadi salah satu juri penilai. Besar harapan, kegiatan kompetitif ini bisa terus dilestarikan demi memelihara iklim beropini yang sehat dan menumbuhkembangkan budaya menulis.


Mencicil Kejayaan

Ada tiga hal utama untuk mencapai sesuatu: Kerja keras, fokus, dan akal sehat. (Thomas Alva Edison)

Pada setiap jelang kompetisi Liga Premier Inggris (EPL) dihelat, Liverpool FC selalu mendapat tempat dan digadang-gadang sebagai salah satu klub calon kampiun. Berkat sejarahnya yang panjang nan gemilang dan materi pemain yang kompetitif setiap musimnya, Liverpool tak pernah bisa diabaikan kansnya baik oleh para football pundit maupun klub kandidat juara lainnya. Bagi The Reds Liverpool puasa gelar juara liga domestik selama 19 tahun dan hasrat mengukuhkan status sebagai klub tersukses di daratan Inggris selalu menjadi energi besar dan obligasi motivasi setiap memulai musim baru. Realitasnya kolam besar kompetisi EPL begitu banyak berbeda dengan era Football League a.k.a Divisi Utama.

Dalam kurun waktu 16 tahun sejak kelahirannya, EPL telah menjelma menjadi liga dan brand terkemuka dunia berkat visi komersialisasi yang diusung para penggagasnya. Komersialisasi kemudian melahirkan sportainment bahwa olahraga (sepak bola) tak lagi sekedar olah tubuh tetapi juga sebuah industri hiburan dan bisnis pertunjukan yang mengundang ribuan penonton dan jutaan pemirsa. Hal ini memicu masuknya para pemilik modal yang melihat cerahnya sisi bisnis EPL.

Ada adagium bahwa untuk meraih prestasi tinggi membutuhkan kekuatan modal yang besar. Kedigdayaan empat klub terkaya Inggris menguasai EPL dan kompetisi Eropa menjadi pembenaran. Begitu pun yang terjadi pada liga-liga negara lain yang dihegemoni klub-klub dengan kemapanan finansial. Kekuatan uang yang digelontorkan pemilik klub membuat sebuah klub menjadi lebih kuat karena mampu menghadirkan lebih banyak bakat-bakat hebat dan tangan-tangan dingin dari setiap penjuru jagat. Namun kegagalan Chelsea selama dua musim terakhir, terseok-seoknya langkah Tottenham Spurs dan Manchester City (klub-klub dengan belanja besar) musim ini menjadi alibi yang pas bahwa untuk menuai kesuksesan, gelimang uang harus dipadukan dengan faktor determinan lainnya yakni kerja keras, fokus dan akal sehat. Meski uang kadang bisa membeli segalanya (pemain, pelatih & CEO bagus) namun tidak serta merta menjadi rumus pasti meraih gelar. Uang berfungsi sebagai super katalisator agar proses menuai gelar menjadi lebih lekas. Di era EPL, klub yang mengkoleksi Piala EPL adalah klub dengan manajemen yang baik dan berpadu dengan jumlah kekayaan yang besar.

Jadi selain berstatus sebagai klub kaya, maka empat klub yang pernah mencicipi nikmatnya gelar EPL memiliki prasyarat lain yang sama yaitu dibesut oleh manajer-manajer hebat. Alex Ferguson (Man Utd), Arsene Wenger (Arsenal), Jose Mourinho (Chelsea) dan King Kenny Dalglish (Blackburn Rovers) adalah sosok-sosok yang memiliki ketrampilan manajerial mumpuni. Fergie dan Wenger sanggup bertahan begitu lama dan sukses memberikan berbagai gelar prestisius bagi klub yang mereka tangani. Sedangkan Mourinho dan King Kenny berhasil membuka sumbat gelar pada tim yang minim tradisi juara di masa lalu.

Menilik pada berbagai kecenderungan diatas, maka tak dipungkiri lagi bahwa Liverpool memiliki sumber daya yang relatif sama dengan para juara EPL tersebut. Berstatus sebagai salah satu tim mapan EPL, Liverpool pun memiliki gaffer yang hebat. Sosok Rafael Benitez sebagai manajer menjadi salah satu alasan untuk tetap menumbuhsuburkan sikap optimis atas masa depan Liverpool. Layaknya para manajer klub juara era EPL, Rafa datang ke klubnya sekarang dengan curriculum vitae yang cerlang cemerlang. Bahkan prinsip dan kemampuannya membangun tim tanpa jor-joran dana yang melimpah tetapi melalui optimalisasi dana yang tersedia menjadi suatu nilai lebih tersendiri. Bukan hal yang aneh kiranya, keberhasilan menghadirkan berbagai title prestisius bagi Liverpool dilakukan Rafa dalam tahapan proses mereparasi, belum sampai pada tahapan membangun tim yang sebenarnya!

Seolah membumikan resep-resep Thomas Alva Edison, Rafa beserta segenap staf pelatih bekerja keras dan fokus mengidentifikasi setiap kekurangan yang ada pada tim asuhannya serta memperbaikinya tanpa pernah kehilangan akal sehatnya. Tidak dalam sekali waktu semua kekurangan itu bisa disolusikan. Dan jelang lima tahun pengabdiannya, skuad Liverpool sudah memiliki pertahanan yang tangguh, salah satu lini tengah terbaik dunia, barisan striker top dan kedalaman materi yang cukup. Hal itu masih dilengkapi dengan antrean darah muda yang penuh bakat. Rencana besar Rafa adalah membentuk sebuah tim yang kuat dan mapan yang tidak hanya sekadar mendominasi sepanjang satu musim namun juga sanggup untuk menghegemoni dalam rentang waktu tertentu. Maka selagi Rafa terus diberi kesempatan, datangnya gelar EPL seperti menunggu waktu. Apalagi dengan sokongan penuh loyalitas dari para liverpudlian, suporter terbaik dunia.

Selain berpadu apiknya Holy Trinity (pemain, manajer dan supporter) yang menandakan besarnya potensi dan sumber daya yang dimiliki Liverpool untuk meraih gelar ke- 19. Meruapnya aroma optimisme disebabkan juga oleh situasi dan dinamika terkini Liverpool beserta para pesaingnya di 14 pertandingan awal EPL. Pencapaian Liverpool pada pekan ke-14 musim ini berbeda enam poin dan tiga tingkat lebih baik posisinya daripada pekan yang sama musim lalu. Enam kali hasil seri di musim lalu dua diantaranya sanggup dikonversi menjadi kemenangan. Bahkan dari beberapa kemenangan yang dipetik seakan menandakan adanya transisi karakter menjadi tim dengan mentalitas Hard to beat, will to win and hate to lose. Ketertinggalan dari Middlesbrough, Manchester United, Manchester City dan Wigan Athletic tak hanya diseimbangkan tapi juga dibalik menjadi keunggulan bahkan di detik-detik akhir pertandingan.

Berbagai kemajuan yang lain diantaranya kemampuan untuk menang di kandang lawan. Manchester City, Everton, dan terakhir Chelsea adalah beberapa korban awal. Seretnya poin yang didulang setiap bertemu dengan anggota "The big boys" alias klub 4 besar EPL pun secara signifikan diperbaiki musim ini. Liverpool sudah menangguk 6 poin dan masih tersedia 12 poin kemungkinan untuk menggapai maksimal poin. Dua anggota the big four yang menyumbang poin bagi Liverpool adalah Manchester United dan Chelsea. Kemenangan atas dua rival utama tersebut menjadi fondasi mental yang kukuh bagi skuad Liverpool.

Dengan kondisi tim belum seratus persen ideal, duduk di peringkat dua klasemen adalah pertanda baik. Bahkan dua kemenangan penting atas kandidat lain juara EPL diperoleh tidak dengan skuad terbaiknya. Mengalahkan MU minus Gerrard dan Torres, sedangkan kemenangan bersejarah atas Chelsea pun dilalui tanpa kehadiran Torres. Padahal selama ini Gerrard dan Torres adalah figur kunci yang kerap menjadi penyelamat dan penentu kemenangan bagi Liverpool. Namun perlahan peran mereka mulai bisa diambilalih dengan baik oleh pemain lainnya seperti Dirk Kuyt, Ryan Babbel, dan Xabi Alonso. Salah satu syarat untuk juara adalah sanggup menang di saat bermain buruk sekalipun.

Hal patut untuk dicermati pula bahwa skuad Liverpool 2008 ini dipenuhi oleh karakter yang diliputi kecanduan dan dipenuhi kerinduan. Nikmatnya gelar Piala Eropa 2008 bagi Torres, Alvaro Arbeloa, Xabi Alonso dan Reina, Emas Olimpiade Beijing 2008 bagi Mascherano, kemudian Piala Liga Carling 2008 bagi Robbie Keane, berpotensi memenjarakan mereka pada candu kesuksesan. Untuk memuaskan hasrat, mereka berusaha memenuhinya dengan memperjuangkan gelar EPL ke-19 Liverpool FC. Selain pemain yang candu akan nikmat juara, terdapat pemain-pemain yang dikungkung rindu yang teramat dalam akan gelar. Bagi pemain dengan pengabdian yang panjang seperti Gerrard, Carragher dan Hyppia, gelar EPL adalah idaman, sesuatu yang teramat ditunggu kehadirannya. Bayang-bayang tropi EPL berpendaran di benak mereka masing-masing.

Meski perjalanan kompetisi masih panjang dan tersedia banyak sekali kemungkinan namun setidaknya klub yang berpeluang sangat layak juara sudah bisa dikerucutkan. Arsenal ditepikan karena kerap digerogoti konflik internal dan koleksi kekalahannya sudah sedemikian banyak yang masih amat mungkin untuk bertambah. Aston Villa belum cukup diperhitungkan dengan sebab alasan belum memiliki kualitas lini bertahan yang kokoh dan selama lebih dari satu dekade ini tidak punya stabilitas prestasi. Berpedoman pada dinamika terkini di klasemen, dua tim yang akan menjadi pesaing Liverpool dalam perebutan title kampiun adalah Chelsea dan United.

Dengan pengalaman juaranya dan skuad bermaterikan pemain-pemain bintang, kedua klub tersebut menjanjikan persaingan yang alot. Tanpa perubahan skuad yang drastis dan asupan taktik yang relatif berbeda dari manajer baru, Chelsea sementara masih memimpin dengan dengan embel-embel tim terproduktif dan paling sedikit kebobolan. United pun terus membaik permainannya. Namun beberapa kekalahan yang diderita oleh kedua tim tersebut membukakan spot kelemahan mereka yang bakal dieksploitasi tim lawan. Dan kemenangan yang didapat melalui permainan impresif atas dua tim tersebut bukan tidak mungkin akan diulangi lagi akhir Januari di Anfield dan medio Maret di Old Trafford.

Klasemen masih akan terus berubah sebab sepak bola tak pernah berlaku kondisi ceteris paribus. Chelsea bakal tidak selalu diatas, United amat mungkin untuk naik juga turun. Namun sekali lagi dengan strategi Rafa yang adaptif, skuad yang kompetitif, the 12th man yang setia dan terpenting Liverpool secara keseluruhan terus belajar dan berkembang dengan akal sehat. There is only one corner of the universe you can be certain of improving and that is your own self. Dan upaya mencicil kejayaan dapat dimulai dan dicapai musim ini juga. Ketika di dunia banyak terjadi perubahan besar, begitu pun di EPL. We can believe in.

Suka Bola, Suka Berkomunitas




Lagi-lagi ini merupakan tulisan pesanan yang mesti dikerjakan dengan serba cepat karena ada garis mati yang menanti. Pengalaman sebentar menjadi jurnalis harian olahraga cetak tak banyak membantu mengatasi sikap tergesa-gesa. Padahal dalam cengkeraman deadline tiada guna tergesa-gesa karena tidak mungkin membuat pekerjaan menjadi lekas tuntas tapi justru menjadi katalis yang sempurna pada hilangnya fokus dan kebuntuan berpikir.

Alhasil, jadilah tulisan yang ala kadarnya. Terdapat juga informasi yang salah tentang proses BIGREDS mendapatkan status official branch dari Liverpool. Info akurat baru diketahui setelah terlibat di Walk On, majalahnya BIGREDS. Secara umum, tulisan ini belum membunyikan pesan yang jelas. Jelas bukan tulisan favoritku meski waktu itu termasuk artikel yang nge-hit di kabarjakarta.com.

Stop Tawuran, Mulailah Berkompetisi



Dalam pelajaran investasi atau manajemen keuangan terdapat idiom “Don’t put all your eggs in one basket”. Semacam pengingat buat kita untuk tidak menginvestasikan uang atau kekayaan kita hanya pada satu lembaga keuangan atau satu perusahaan saja. Jadi kita dianjurkan untuk melakukan diversifikasi usaha, mengingat potensi terjadi kehilangan total apabila investasi tunggal itu mengalami kegagalan.

Aku sendiri pernah mengalami pahitnya kehilangan total akibat ulah menaruh seluruh telor dalam satu keranjang itu. Bukan investasi, sama sekali bukan karena belum ada uang lebih untuk diinvestasikan. Telor di sini adalah file-file yang disimpan dalam media penyimpan bernama harddisk (HD) eksternal. Sejak bulan April, HD eksternal itu mulai menunjukkan gejala tidak sehat sampai akhirnya semakin parah dan Juni lalu divonis tidak bisa di”sembuh”kan. Celakanya, ada banyak file penting di situ. Termasuk lima draft calon buku, kumpulan artikel yang pernah dimuat di berbagai media massa dan berbagai bahan bacaan langka yang didapat dari teman semasa kuliah. Ikhtiar untuk mengunggah lagi artikel-artikel lama yang pernah dimuat di berbagai media massa merupakan keinsyafan dari keteledoran tersebut.

Artikel ini pernah dimuat di situs warta: kabarjakarta.com pada hari Senin, 26 September 2011 di segmen Kabar Sosial. Saat itu memang sedang kembali marak tawuran antar pelajar di Jakarta dan sekitarnya. Bahan tulisannya berasal dari salah satu bab di skripsiku yang mengangkat tema konflik antar kelompok suporter sepak bola. Tulisan yang dangkal, dengan solusi yang kurang kuat. Tapi tetap saja merasa sayang kalau kemudian hilang tak berbekas. Misi penyelamatan pun dimulai dari artikel ini.


Stop Tawuran, Mulailah Berkompetisi

Menurut Georg Simmel, sosiolog Jerman, konflik seperti halnya kerja sama merupakan bentuk-bentuk sosiasi (Vergessellschaftung) yang pada akhirnya melahirkan masyarakat. Masyarakat dalam konsepsi Simmel sendiri memiliki pengertian yakni sejumlah individu atau kelompok yang berhubungan melalui interaksi. Dalam kehidupan, konflik adalah sesuatu yang inheren. Konflik adalah dinamika antar individu dan antar kelompok yang tidak bisa dielakkan.

Sebagai wujud interaksi, konflik merupakan fenomena yang timbal balik dan dialektis, suatu fenomena yang di dalamnya termuat elemen positif dan negatif, ancaman dan peluang. Selama ini, para ahli sosiologi kerapkali mengabaikan konflik sosial dan cenderung menekankan pada sisi negatif. Bahwa sejatinya konflik memiliki konsekuensi-konsekuensi  yang positif atau menguntungkan yakni bagaimana konflik itu dapat memberi sumbangan pada ketahanan dan adaptasi kelompok, interaksi dan sistem sosial.

Lewis Coser, sosiolog Amerika kelahiran Jerman, menyatakan bahwa konflik itu bersifat fungsional dan disfungsional. Dan dinamika di dalam sebagai akibat dari konflik antar kelompok dapat berupa berkembangnya solidaritas internal, mengarahkan dan mengintegrasikan energi dari anggota-anggota kelompok, meningkatkan kohesi dan menetapkan identitas kelompok tersebut. Konflik berperan membantu memperjelas dan mengidentifikasi batas-batas kelompok antara kelompok-dalam (in-group) versus kelompok-luar (out-group), serta antara ‘kami’ dan ‘mereka’. Di dalam kelompok ada kemungkinan berkurangnya toleransi untuk perpecahan dan semakin tingginya tekanan pada konsensus dan konformitas.

Hal inilah yang terjadi pada fenomena tawuran antar pelajar yang marak akhir-akhir ini. Di satu sisi, konflik yang disertai kekerasan tersebut telah menghasilkan beberapa dampak negatif berupa kerusakan, terganggunya ketentraman dan ketertiban masyarakat serta jatuhnya korban. Namun di sisi lain, konflik tersebut membuat kelompok (sekolah) yang ambil bagian dalam konflik tersebut berkesempatan untuk lebih berkembang dan semakin solid, meskipun untuk mencapai hal tersebut dengan meniadakan salah satu pihak yang berkonflik. Kelompok yang terlibat konflik terbuka sesungguhnya memiliki solidaritas internal lebih besar daripada kelompok tidak terlibat konflik sama sekali.

Dalam kondisi solidaritas internal yang kuat tersebut, menjadi peluang bagi pihak sekolah yang bersangkutan untuk mengarahkan dan menanamkan nilai-nilai tentang harkat dan jati diri sekolah yang pada dasarnya mengandung unsur-unsur kebaikan. Para siswa diajak untuk bangga dengan identitas almamaternya dan pada akhirnya selalu dalam keadaan sanggup membela panji-panji almamaternya.

Dampak eksternal akibat dari konflik antar pelajar ini, dalam konsepsi Coser bisa menghasilkan perubahan sosial. Secara langsung maupun tidak langsung konflik (tawuran) antar pelajar ini memengaruhi sikap dan perilaku masyarakat terhadap pelajar. Salah satu perubahan sosial yang ditimbulkan yaitu meningkatnya perhatian masyarakat baik positif maupun negatif pada relasi antar pelajar tersebut.

Kesiapan para pelajar sekolah itu untuk berkonflik (tanpa kekerasan) mestinya direspon dengan cepat dan cermat oleh masyarakat terutama pemerintah. Pemerintah mesti menyiapkan berbagai piranti baik aturan, program maupun fasilitas bagi para pelajar untuk berkompetisi. Kompetisi secara harfiah merupakan suatu usaha paralel yang dilakukan oleh kedua belah pihak untuk meraih hadiah atau penghargaan yang sama. Kompetisi adalah bentuk konflik yang tidak langsung disebabkan sifatnya yang tidak ofensif maupun defensif karena ganjaran yang diperebutkan tidak berada pada masing-masing lawan. Dalam suatu kompetisi individu-individu atau kelompok-kelompok yang berkompetisi harus sepakat dengan peraturan-peraturan permainan.

Apabila terdapat banyak program yang dibuat masyarakat sebagai ajang kompetisi antar pelajar, maka konflik dengan kekerasan akan dapat dihilangkan atau setidaknya diminimalisir.

Mukadimah


Pada mulanya adalah niat. Niatnya pun sederhana, menulis. Mestinya juga bisa tetap sederhana prosesnya. Tuliskan, lalu kirimkan atau posting-kan pada media yang ada. Namun seperti halnya hidup, perlu sedikit dan atau banyak kerumitan di sana-sini sebagai warna pelengkap. Ada ketidakpuasan atas apa yang sudah ada dan dimiliki.

Aku berpikir, blog atau akun sosial media yang aku miliki saat ini, sudah tidak mampu mewadahi calon-calon tulisanku yang kelak nanti akan diposting. Satu-satunya blog pribadiku bertema suporter, sedangkan keinginanku adalah menulis dengan tema-tema lain. Jelas, bahwa blog yang dibuat tahun 2006 berkat provokasi seorang tokoh suporter tersebut membelenggu karena temanya yang terlanjur spesifik. Dan memang aku berpikir tema-tema suporter tidak “sopan” apabila dicampur dengan tema sepak bola secara umum, apalagi dikotori dengan tulisan-tulisan yang bersifat pengalaman pribadi. Lebih dari itu, ditilik dari gaya bahasa dan lainnya, blog suporter tersebut mesti dihantarkan dengan bahasa yang formal dengan berbagai lampiran teori, semacam karya ilmiah atau hasil kerja akademis. Tidak klop dengan keinginanku untuk menulis dengan gaya bebas, sebebas-bebasnya orang mengeluarkan kotoran hasil metabolism tubuh.

Sejujurnya, menulis bagiku adalah aktivitas yang menyita tenaga, pikiran dan waktu. Betapa tidak, untuk menulis sebuah tema yang sedikit serius seperti yang ada di blog suporter atau media lain, membutuhkan waktu hingga berhari-hari lamanya karena adanya riset kecil-kecilan, pembacaan ulang atas sumber data dan verifikasi di sana-sini saat tulisan tersebut dibuat dan jelang diposting. Kadang untuk memilih satu kata, menyita waktu untuk memastikan maknanya dan pas pada konteksnya. Lalu muncul pula bukit buku dan kamar yang berantakan sebagai efek sampingnya. Belum rasa tidak puas dan khawatir atas tulisan yang sudah jadi itu. Entah karena data yang mungkin tidak shahih alias meragukan, salah dalam penggunaan kata dan kecemasan-kecemasan lainnya. Jadi menulis bagiku selama ini adalah siksaan.

Meski demikian, bukan berarti tidak pernah merasakan kenikmatan menulis dan puas atas hasil tulisan yang pernah dibuat. Pada tulisan-tulisan yang spontan, tulisan yang bertutur tentang hal yang melibatkan pengalaman pribadi adalah sejenis tulisan yang ternyata selama ini cukup bisa menenangkan hati. Tulisan yang seakan-akan dibuat untuk dibaca sendiri, dan apabila ternyata tulisan itu dibaca dan akhirnya dikritik oleh orang lain justru menjadi hiburan tambahan. Di blog inilah rencananya akan menjadi “rumah” bagi tulisan-tulisan ringan berkualitas biasa namun menjadi terapi hati bagi penulisnya. Aku ingin menulis menjadi salah satu kesenangan hidupku atau joie de vivre. Di saat bermain bola sebagai kesenangan hidupku membutuhkan alat, perangkat, tempat dan teman untuk mewujudkannya, maka aku bisa kapan saja, di mana saja untuk menulis. Di sini aku tidak harus menulis dengan tema suporter terus menerus, aku pun boleh menulis dengan gaya bahasa yang paling kasual sekalipun.

Dan karena tujuannya hendak menjadikan sebagai sebuah kesenangan hidup, tentu tidak terlalu berminat apalagi berambisi bahwa tulisan-tulisannya nanti akan memberi manfaat bagi orang lain. Namun tak akan tercapai juga kesenangan hidup sejati apabila cara mencapainya membuat duka dan bahkan merugikan bagi orang lain. Ketidaksempurnaan adalah keniscayaan, namun setidaknya niat menulis untuk menyenangkan hati juga akan sampai untuk menyenangkan hati bahkan orang lain.