Wawi, Tetap Semangat dan Fokus


Foto dari Rian Batonk

Bagiku sebaik-baik mengenang seorang teman, sahabat dan kerabat adalah pada saat mereka hidup, sekarang tanpa menunggu kelak. Dengan mengenang, kita menggali segala peristiwa baik bersama mereka yang sempat terkubur untuk kemudian mengetuk hati kita untuk mengulangi segala kebaikan itu. Mengenang bagiku juga mendorongku untuk berkisah tentang seseorang itu. Tanpa kisah, manusia hanya seonggok tanah. Aku pernah berkisah tentang temanku yang sakit supaya dia kembali sehat, kembali bahagia. Sekarang, aku akan berkisah tentang dia yang akhirnya bahagia dan akan terus bertambah bahagia.


Ini adalah kisah kecil tentang seorang sahabat, yang terakhir kali menyaksikan wajahnya adalah wajah kebahagiaan. Kesulitan-kesulitan hidup yang dia rasakan dan kadang dia ceritakan, hari itu tak lagi terlihat. Dia tak bercerita kalau dia bahagia saat itu, wajahnya yang penuh binar senyum cukup menjadi penyampai pesan yang jelas. Dia telah sampai pada jembatan yang akan menghantarkannya menuju pulau kebahagiaan, jembatan bernama pernikahan.

Setiap orang yang pernah merasakan atmosfer nonton bareng (nonbar) pertandingan Liverpool FC yang diselenggarakan oleh BIGREDS Regional Jogja, tentunya tak asing dengan sosok yang selalu aktif di area nonbar. Seorang pria berbadan cukup tambun dengan potongan rambut selalu cepak ini menonjol di antara penonton berkat teriakannya yang nyaring dan polahnya menyisir setiap sisi venue nonbar. Nonbar BIGREDS Regional Jogja seperti panggung bagi Wawi Radiman. Ia memimpin sekian banyak pencinta Liverpool FC yang hadir untuk terus menyanyi, meledakkan euphoria kemenangan, hingga menenangkan segelintir orang yang mulai gusar, dan menyemangati yang jatuh mentalnya. Di awal dan di akhir nonbar, Ia juga menyapa akrab semua yang datang baik anggota lama maupun yang baru bergabung.

Pria Pati kelahiran 23 Februari ini boleh dibilang seorang penggila akut klub berjuluk The Reds. Yang mengekspresikan kecintaannya pada klub asal Merseyside ini dalam berbagai rupa. Dalam kondisi kesehatan yang tidak selalu bagus, ia selalu menyempatkan diri untuk nonbar. Nonbar sendiri bagi Wawi adalah hiburan atas rutinitas kerja yang dijalaninya, ajang silaturahmi dengan saudara-saudara sesama penggemar Liverpool FC, dan salah satu ekspresi cintanya pada The Reds. Rela hati untuk datang lebih untuk menyiapkan dan merias venue, terkadang sampai harus menembus hujan. Inisiatif mengumpulkan lirik-lirik chant, untuk kemudian dibuatkan menjadi baku saku kecil yang praktis sekaligus apik bagi para peserta nonbar. Teriakan tetap semangat dan fokus merupakan ciri khas yang demikian lekat dengan sosok tersebut.

Seperti kebanyakan gejala yang menjangkiti suporter-suporter lainnya. Alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM ini juga dihinggapi gejala fanatisme. Yaitu mengidentifikasikan secara berlebih (over-identify) pada klub yang mereka dukung. Dia akan menangis penuh haru, gembira hingga jumpalitan bila Liverpool mendapatkan hasil yang bagus. Namun sakit lahir batin kala klub kesayangannya itu dimusuhi nasib baik. Apabila beruntung bisa singgah ke kamar kosnya. Maka kita akan disuguhi dengan berbagai macam pernik yang berbau Liverpool FC, ratusan cakram digital berisi materi audio video yang lagi-lagi terkait dengan The Reds Liverpool.

Bagi BIGREDS Regional Jogja, pria yang mengaku bergabung dengan BIGREDS sejak 2008 merupakan salah satu sosok penting. Aktif di berbagai kegiatan baik on line maupun off line. Memandu nonbar menjadi lebih hidup, sportif dan menyenangkan bagi semua pihak. Pembawaan yang ramah tanpa dibuat-buat membuat anggota baru merasa begitu diterima di lingkungan barunya, sedang bagi sudah terlebih dahulu bergabung bisa memandangnya sebagai teladan yang baik untuk ditiru. Produktif menyumbang ide demi kemajuan BIGREDS Regional Jogja dalam watak organisasinya. Tak pelak, keberadaannya telah, membuat suasana nyaman dalam berkomunitas dan memberi warna organisasi dengan pendekatan positif.

In the end, I know him as affable, funny and gregarious, a kind and loyal friend.

No comments:

Post a Comment