Catatan atas Gagalnya Rezim Tua


Suarez menggigit, Suarez dihukum, Suarez lalu dibenci dan di lain pihak dibela oleh para pendukungnya. Luis Alberto Suárez Díaz sekali lagi menjadi bunga pemberitaan, pusat pembicaraan, inti perdebatan. Entah disergap rasa frustasi atau alasan lain yang kita tidak ketahui, ulahnya menggigit Branislav Ivanović pada laga di Anfield telah mengantarkannya berhadapan (lagi) dengan FA, sebuah lembaga yang menginduki segala urusan yang terkait bal-balan di Inggris. (Hanya) berjarak 3 hari dari kejadian, FA dengan segera menghukum Suarez dengan larangan bermain 10 pertandingan.


Sanksi yang tentu saja sulit dipahami oleh nalar para pendukung Liverpool FC. Di mata para pendukung Liverpool FC yang puasa gelar sepanjang 23 tahun, FA terlanjur mendapatkan “citra” khusus sebagai liyan apabila tidak mau kasar disebut sebagai musuh. Dalam opini suporter yang bias, FA tidak berada pada titik netral yang bersikap adil pada semua anggotanya. Pendekatan FA pada anggota-anggotanya sudah seperti orang tua yang pilih kasih pada anak-anaknya. Lalu muncul standar ganda, mekanisme reward and punishment tidak berjalan karena ada yang disayang ada yang diabaikan.

Liverpool FC perlahan-lahan menjadi anak yang diabaikan sejak tragedi Heysel 1985 lalu bahkan seperti anak tiri karena tragedi Hillsborough 1989. Mulailah Liverpool memasuki masa paceklik, sedangkan satu sisi muncul klub yang menjalani masa panen raya. Kemerosotan prestasi Liverpool FC tentu banyak dianalisa sebagai usangnya manajemen klub mengikuti perkembangan jaman, perkembangan klub lain yang kreatif di bisnis dan cerdik di sisi taktik dan tehnik. Ada banyak faktor lainnya, namun pengaruh administrator tertinggi sepak bola negeri itu dianggap seakan tidak hadir. Tentu hanya segelintir para penggemar teori konspirasi yang percaya keterlibatan FA. Maka, terpuruknya Liverpool FC adalah murni buah dari kegagalan bersaing dalam sebuah kompetisi yang adil dan sehat bernama Premier League.

Hingga akhirnya datanglah Suarez. Suarez ini Liverpool FC versi manusia, tukang bikin ulah. Sama seperti Liverpool FC, Suarez ini menjadi figur yang tidak menyenangkan pihak lain terutama setelah dia semakin menunjukkan kapasitas kebintangannya dan mengangkat performa Liverpool FC secara keseluruhan. Suarez tidak paham bahwa menjadi foreigner dengan kiprah cemerlang adalah seperti membukakan pintu bahaya pada dirinya sendiri, apalagi dia membela Liverpool FC. Maka sejak Oktober 2010, Suarez mencicipi total skorsing sebanyak 25 laga meski tidak pernah mendapat kartu merah. FA sepertinya jauh lebih cekatan dalam membuat keputusan menghukum dia. Jangan harap dia mendapatkan keadilan layaknya John Terry dan Jermaine Defoe. Keadilan di lapangan hijau pun setali tiga uang, para wasit susah untuk percaya jatuhnya dia bukan karena niat diving.

Susah disangkal, dibalik aksi kontroversialnya Suarez adalah pemantik solidaritas di Liverpool FC. Tengok insiden Negrito, Kenny Dalglish beserta kawan-kawan satu timnya menunjukkan solidaritas padanya, pun dengan suporternya. Suarez juga yang membukakan mata tentang bagaimana kinerja FA. Buat ulah dan FA akan dengan lekas menghukumnya dengan sanksi yang jangan harap akan memenuhi rasa keadilan pendukung Liverpool FC. Anggaplah konspirasi FA mendzalimi Liverpool FC adalah halusinasi, namun penanganan pada dua kasus Suarez makin meningkatkan krisis kepercayaan pada FA dari pendukung Liverpool FC. Suarez menangguk dukungan, sekaligus menjadi simbol perlawanan.

Diterimanya kebenaran tentang Tragedi Hillsborough lalu hadirnya bintang macam Suarez di Liverpool FC kerap dipandang sebagai titik awal kebangkitan Liverpool FC. Sinyal yang membuat status quo terganggu. Sayangnya Liverpool FC sendiri menyikapinya dengan naïf, Suarez melawan FA tanpa dukungan pihak klub. FA menjadi federasi dengan kendali kuat pada satu sisi kepentingan namun sepi prestasi tim nasionalnya. Musim ini, prestasi klub-klub Inggris di Liga para kampiun memble.  

Pertengahan Januari tahun ini, FA merayakan 150 tahun usianya. Asosiasi sepak bola tertua di dunia. Rezim tua yang gagal.  

1 comment:

  1. dan mendadak ingatan saya melayang ke Mexico.

    FA sebagai otoritas yg mewakili (pemerintah) Mexico dan
    LIVERPOOL FC yg diwakili dgn otonomi Chiapas

    Suarez?
    Berlebihankah apabila dikatakan kalo dia mewakili the legendary Sub Commandante Marcos?


    ReplyDelete