Belgian Brigade



Pengantar
Mengemukanya kiprah serta prestasi para pemain Belgia beserta timnasnya menjadi alasan ditulisnya artikel ini. Bukan tanpa sebab mereka kemudian diperhitungkan (kembali) sebagai kekuatan elit sepak bola Eropa. Artikel ini dipublikasi pertama kali di kanal About The Game di situs detik.com, klik di sini.

***

Seperti halnya dalam politik internasional, peran Belgia dalam sepak bola juga begitu menonjol dewasa ini . Sepak bola Belgia dengan tim nasionalnya yang berjuluk Rode Duivels memang sedang menjadi topik perbincangan dan pembahasan.


Tim nasionalnya saat ini berada di lajur mulus untuk lolos ke Piala Dunia 2014 Brasil. Memuncaki klasemen sementara grup A Zona UEFA dengan perolehan poin 22 dari kemungkinan 24 poin maksimal. 'Setan Merah' itu begitu rakus meraup poin penuh baik di kandang maupun tandang, kecuali Kroasia yang sanggup menahannya di Brussels.

Pun demikian, pelatih Kroasia Igor Stimac menganggap Belgia punya level yang lebih baik dibanding timnya. "Sedari dulu saya mengatakan bahwa Belgia akan berada di 10 terbaik dunia dalam waktu dekat ini. Kualitas mereka di atas kami sehingga bukan pesaing langsung di grup."

Kenyataannya, Belgia memang begitu dominan di grup itu. Tim asuhan Marc Wilmots hanya kebobolan dua gold an menjadi tim terproduktif di grup tersebut dengan 15 gol. Saat ini, Belgia berada di peringkat enam dalam ranking dunia FIFA, tertinggi yang pernah dicapai oleh negara yang menjadi markas NATO dan Uni Eropa itu. Tak ayal, skuat Belgia saat ini dianggap yang terbaik setidaknya dalam satu dekade terakhir.

Penggawa EPL menjadi tulang punggung
Belgia sekarang memang dihuni oleh para pemain bintang yang bernilai mahal. Sebut saja, salah satunya, gelandang Axel Witsel yang dihargai €40 juta atau setara £32.5 juta. Keseluruhan nilai jual skuat Belgia yang berjumlah 25 pemain itu bahkan pernah dihitung oleh situs Transfermarkt (per September 2012) bernilai total €302.852 juta, nomor enam tertinggi di dunia. Dari 25 pemain yang terdapat di daftar tersebut, 11 di antaranya bermain di klub-klub English Premier League (EPL) dan bernilai total €234 juta.

Tak hanya dari nilai jual, para penggawa Belgia yang bermain di EPL pun mendominasi di starting XI pilihan Marc Wilmots. Pada laga terakhir (vs Skotlandia), 6 September lalu, lima pemain EPL mengisi posisi awal yakni Nacer Chadli, Christian Benteke, Marouane Fellaini, Kevin De Bruyne dan Jan Vertonghen yang juga menjadi kapten. Dua pemain lainnya, Kevin Mirallas dan Moussa Dembele bangkit dari bangku cadangan sebagai pengganti.

Andai Vincent Kompany dan Thomas Vermaelen fit, bukan tak mungkin warna EPL akan semakin dominan di starting XI. Dua pemain yang jika pada saat mereka bugar adalah pilihan utama, bahkan status Kompany merupakan kapten regular.

Jelang melawan Skotlandia lalu, Wilmots memanggil 10 pemain dari keseluruhan 15 pemain yang bernaung di klub-klub EPL. Jumlah 10 pemain itu jauh di atas pemain dari klub-klub liga lain. Terbanyak kedua adalah Jupiler Pro (Liga Utama Belgia) yang menyumbangkan empat pemain, lalu disusul Bundesliga dengan tiga pemain.

Banyaknya pemain Belgia yang bernaung di klub-klub EPL dan mayoritas dari mereka memiliki peran vital di klubnya, rasanya tak sulit untuk siapa pun yang hendak berperan layaknya Wilmots untuk membentuk tim Belgia versi EPL yang sama kuatnya dengan tim Belgia sekarang. Bahkan jika mereka disatukan dalam sebuah klub sendiri, amat mungkin bisa bertarung di Liga Champions.

Berikut adalah skuat Belgia EPL dengan formasi 4-3-3 yang merupakan template yang secara konsisten dipakai tim nasional sejak dari tahun 2000.

Tim utama: Simon Mignolet (Liverpool), Dedryck Boyata (Man. City), Jan Vertonghen (Tottenham Hotspur), Vincent Kompany (Man City), Thomas Vermaelen (Arsenal), Marouane Fellaini (Man. United), Moussa Dembele (Tottenham Hotspur), Eden Hazard (Chelsea), Nacer Chadli (Tottenham Hotspur), Kevin De Bruyne (Chelsea), Christian Benteke (Aston Villa) Cadangan: Kevin Mirallas (Everton), Roland Lamah (Swansea-pinjaman), Romelu Lukaku (Everton-pinjaman), Adnan Januzaj (Man. United).

Phillipe Albert Sebagai Perintis
Di balik membanjirnya pemain Belgia, yang sekarang merupakan peringkat delapan negara terbanyak mewakilkan pemainnya di EPL, selalu ada seseorang yang merintis jalan. Adalah Phillipe Albert yang didatangkan ke Newcastle United dan menjadi pemain Belgia pertama yang bermain di EPL.

Sebelum merantau ke Inggris, Albert memiliki rekam jejak karir yang cemerlang. Pria bernama lengkap Philippe Julien Albert ini memulai karir bersama Charleroi, di klub itulah juga dia mengecap pengalaman pertama membela tim nasional. Setelah dua musim membela Charleroi, dia pindah ke KV Mechelen untuk kemudian memenangi penghargaan individu Belgian Golden Shoe. Prestasi puncak datang ketika klub elit Belgia, RSC Anderlecht, memakai jasanya. Dalam dua musim membela klub itu, Albert mencicipi dua gelar juara liga domestik dan satu piala Belgia.

Albert datang ke Newcastle United dengan membawa reputasi yang cemerlang, tampil di dua Piala Dunia (1990 dan 1994). Kemampuan dan pengalamannya membawa dampak instan pada Newcastle yang memenangi enam laga pertamanya pada musim 1994-1995. Namun cedera membuatnya berhenti bermain reguler, akibatnya Newcastle hanya mampu mengakhiri musim di urutan enam.

Albert membela Newcastle selama lima musim kompetisi (1994-1999), dan menjadi salah satu pemain kesayangan fans. Bersama Darren Peacock membentuk duet di pertahanan tengah Newcastle yang tenar dengan sebutan 'The Entertainers' karena kecenderungan mereka untuk ikut aktif menyerang. Albert mencetak gol 12 dari total 135 penampilannya di berbagai ajang. Salah satu yang terkenal adalah golnya ke gawang Peter Schmeichel saat menang 5-0 atas Manchester United pada 1996. Dua musim berturut-turut (1995-96, 1996-97), Newcastle dibawanya menjadi runner-up liga. Prestasi tertinggi klub selatan itu di EPL.

Meski terhitung sukses, kiprah Albert tidak serta merta memicu ketertarikan klub-klub EPL untuk memakai jasa para pemain Belgia. Hal ini disebabkan para pemain Belgia sendiri tidak cukup banyak yang berkualitas. Dampak nyata yang terjadi adalah penurunan kualitas dan prestasi dari tim nasional. Puncaknya adalah pada Piala Eropa 2000, sebagai tuan rumah bersama Belanda, Belgia tersingkir di penyisihan grup.

Kegagalan Sebagai Titik Balik
Kegagalan pahit itu membuat otoritas tertinggi sepakbola Belgia bertindak drastis. Mereka memutuskan bahwa pembinaan usia muda memerlukan perubahan yang serius. Pada tahun 2001, melalui direktur tehnik KBVB/URBSFA, Michel Sablon, meresmikan sebuah cetak biru, sebuah rencana 10 tahun untuk menghasilkan dan mengembangkan generasi baru sepakbola Belgia.

Pengembangan generasi baru oleh asosiasi sepakbola Belgia ini juga fokus pada pembinaan kelompok usia tertentu atau spesifik area. Mereka sangat fokus membina pemain pada kelompok umur 14 tahun ke bawah. Selanjutnya, para remaja tersebut menimba ilmu di klub-klub negara tetangga yang memiliki kompetisi lebih bagus seperti Jerman, Prancis dan Belanda.

Namun federasi sepakbola Belgia tak puas sampai di situ. Dengan cetak biru ini, klub-klub di Belgia terutama klub besarnya seperti Anderlecht, Racing Genk dan Standar Liege juga 'dipaksa' untuk mengikuti visi yang dituangkan melalui sebuah brosur yang detail dan terperinci. Isinya adalah semua tim (dari tingkat sekolah hingga atas) akan memainkan sebuah gaya bermain yang sama, sepakbola tempo tinggi dan fleksibel dalam sistem 4-3-3. Formasi 4-3-3 dipilih federasi menjadi template untuk strategi sepakbolanya. Dengan demikian, setiap pemain akan memahami peran dan posisinya juga rekan setimnya dalam sistem permainan 4-3-3 sedari dini.

Liga Belgia juga mendapat sentuhan perubahan, klub peserta dikurangi dari 18 menjadi 16 klub dan liga pun diakhiri dengan playoffs. Dengan demikian level daya saing liga semakin tinggi sekaligus memberi kesempatan setiap klub menjadi juara dan karenanya serius juga melakukan investasi.

Sepuluh tahun lebih setelah implementasi cetak biru tersebut, sepak bola Belgia memetik hasilnya.

"Di masa lalu, kami memiliki empat atau lima pemain bagus yang bisa bersaing dengan negara besar, sekarang angka itu menjadi lebih dari dua kali lipat," ujar Sablon.

No comments:

Post a Comment