Review Match Manchester City vs. Manchester United: High Defensive Line City dan Peran Besar Nasri



Pengantar
Artikel ini tayang di kanal About The Game situs detik.com, klik di sini.

***

Derby Manchester jilid 166 kembali meneruskan tren delapan laga sebelumnya, selalu menghasilkan gol. Total lima gol tercipta di Stadion Etihad, dengan empat di antaranya terjadi ke gawang Manchester United.

Skor besar yang terjadi bisa dianggap mematahkan prediksi, mengingat Manchester United datang dengan membawa kebiasaan apik: selalu menang setiap usai melakoni laga di ajang kompetisi Eropa. Selain itu, pertemuan terakhir di kandang City dimenangkan oleh United (3-2). Namun selayaknya derby di tempat lain, hasil akhir sulit diprediksi.


Skor 4-1 yang tercipta membawa City menapak naik ke posisi tiga klasemen sementara dengan nilai 10, sedangkan MU melorot tiga peringkat ke urutan delapan. Empat gol tuan rumah datang dari Sergio Aguero (2 gol), Samir Nasri dan Yaya Toure. Sedangkan satu-satunya gol MU dicetak Wayne Rooney, yang membuat dia kini jadi top skorer Derby Manchester dengan 11 gol. Sebelumnya Rooney menjadi top scorer bersama dua mantan pemain City, Francis Lee dan Joe Hazes dengan 10 gol.

Bagi Manuel Pellegrini, laga ini semakin mengukuhkan superioritasnya atas David Moyes. Ini menjadi kemenangan ketiga dalam tiga pertemuan di antara mereka. Apakah ini menjadi kemenangan taktik Pellegrini atas Moyes? Atau ada faktor lain dalam kemenangan telak City ini?

Pressing dan High Defensive Line
Kedua tim memulai laga dengan formasi 4-2-3-1, dengan City seperti memodifikasinya seperti 4-4-1-1. Tidak tampilnya Robin Van Persie diisi oleh Danny Welbeck, sedangkan absennya David Silva digantikan oleh Samir Nasri.

Dengan memasang Jesus Navas dan Samir Nasri dalam posisi sayap klasik, City seakan hendak menyerang United dari sisi lapangan. Sejak awal City sudah bermain dengan pressing dan high defensive line. Ini terlihat dari area aksi dua bek sayap mereka, Pablo Zabaleta dan Aleksandar Kolarov yang dominan berada di sejajar tengah lapangan. Bahkan Zabaleta sendiri malah lebih sering berada di daerah lawan.



Pellegrini tentu belajar dari laga yang memberi satu-satunya kekalahan bagi United sebelum bertemu City, yakni melawan Liverpool. Bagaimana United kebobolan setelah ditekan oleh kombinasi bek sayap dan pemain sayap di depannya.



Dari grafik di atas terlihat bahwa dari 10 peluang yang diciptakan oleh City, 7 di antaranya berasal dari umpan silang yang bahkan nyaris horizontal. Terlihat bahwa City memang ingin menghujam jantung pertahanan United dengan umpan-umpan silang.

Akibat tekanan dari Zabaleta dan Navas, Ashley Young yang mengisi sayap kiri United hanya menghasilkan sembilan umpan sukses di babak pertama. Young juga tidak mampu bekerjasama dengan baik dengan Patrice Evra dalam urusan bertahan. Maka lubang di sisi kiri United ini dapat dimanfaatkan City dengan serangan balik cepat. Hasilnya adalah gol keempat yang berawal dari akselerasi dan umpan silang Jesus Navas.

Peran Inverted Winger oleh Samir Nasri
Manajer asal Chile juga menduplikasi cara-cara City mengalahkan United dari laga-laga sebelumnya. Adalah Nasri yang memiliki peran unik ini seperti sebelum-sebelumnya. Sebagai inverted winger, Nasri bergerak menyerang ke tengah dan menarik pemain lawan untuk menutupnya. Nasri juga membantu City memiliki ball possession yang lebih bagus di menit-menit awal. Nasri menjadi tujuan umpan dari Fernandinho dan Yaya Toure.

Gol pertama City menjadi bukti mujarabnya peran Nasri, dengan menarik Chris Smalling meninggalkan posnya, ada ruang kosong yang kemudian dieksploitasi oleh Kolarov. Meski ada sumbangsih dari keteledoran Antonio Valencia, Kolarov leluasa meninggalkan Smalling dan mengirim umpan dari dalam kotak penalti MU. Kolarov bahkan sempat menerobos ke kotak penalti. Nasri juga mencetak gol dalam kondisi bebas tanpa kawalan dari para pemain United di sisi kanan pertahanan mereka.

Begitu ketatnya pressing City, membuat United hanya mampu mengkreasi satu peluang dalam 50 menit. Bandingkan dengan City yang mampu membuat 15 attempts dan berbuah empat gol. City benar-benar menguasai jalannya laga selama 50 menit awal di berbagai lini. Tekanan-tekanan oleh para pemain City membuat beberapa pemain United seperti Young, Fellaini dan Valencia minim terlibat dalam permainan timnya.



Young sendiri jelas tertekan. Dari 17 umpannya, hanya sembilan yang sukses. Namun Fellaini seakan tak mampu membaca hal ini dengan malah memberi umpan pada sisi Young yang sedang tertekan. Sedangkan Valencia, meski dari 18 umpan yang dibuatnya berbuah 17 umpan sukses, namun tidak ada satu pun yang masuk final third, kebanyakan umpan yang diterimanya diumpan balik lagi ke belakang.

Efek Masuknya Cleverley dan Kokohnya Pertahanan City
Setelah menderita selama 50 menit awal, pergantian pemain dan perubahan taktik membuat United bermain lebih baik setelahnya. Tom Cleverley menjadi satu-satunya pemain pengganti yang digunakan oleh Moyes saat itu, namun sekaligus sukses mencegah kerusakan yang lebih parah harud dialami MU.

Masuknya Cleverley membuat Fellaini menjadi pemain di belakang striker. Sedangkan posisi Young diisi oleh Welbeck. Ini membuat penguasaan bola menjadi pulih. Selama 40 menit turun di lapangan, Cleverley mencatatkan 52 umpan sukses dari 55 yang dilakukan. United pun setelah itu membuat umpan sekaligus yang berhasil dua kali lipat lebih banyak dari 50 menit awal.



Membaiknya penguasaan bola itu diikuti oleh membaiknya area penyerangan. Rooney cs membuat 13 attempt tambahan, dengan rincian satu berbuah gol, dua diselamatkan, satu sundulan menerpa tiang gawang.

MU juga menghujani pertahanan City dengan 18 crossing tambahan. Di saat ini, Fellaini juga terlihat mengalihkan arah umpannya ke sayap kanan MU, berbeda di babak pertama yang selalu diberikan pada Young.

Ini terlihat dari grafik passing Fellaini di area sepertiga lapangan akhir di bawah. Mantan pemain Everton ini hanya mengalirkan bola ke area pinggir lapangan, dan hanya 3 umpannya yang mengarah ke tengah. Namun ini tentu jadi satu catatan tersendiri yang mesti diperbaiki oleh Moyes. Bermain di belakang striker, Fellaini tak punya cukup kreativitas untuk membongkar lini pertahanan City, dan hanya terpaku untuk memberikan umpan ke sisi sayap.

Meski MU bermain dengan mengandalkan sisi lateral, pertahanan City sendiri mampu menghalau umpan-umpan silang yang datang ke pertahanan mereka. Dari 29 clearance yang dibuat, 20 di antaranya dibuat saat gencarnya serangan United di 40 menit terakhir. Kompany menjadi pemain dengan clearance terbanyak, sembilan kali.

Kompany bersama Fernandinho menjadi pemain yang secara khusus menghentikan Rooney. Bahkan Rooney sempat frustasi dan mengakibatkannya menerima kartu kuning pada menit 30. Keputusan Pellegrini untuk memasukkan James Milner dan Javi Garcia merupakan upaya untuk menambah tebal tembok pertahanan City. Maka kesempatan mencetak gol untuk United pun didapat dari set piece. Rooney mengulangi kehebatannya mengeksekusi tendangan bebas seperti saat melawan Crystal Palace.

Kesimpulan
Pellegrini telah menunjukkan sikap diskriminatifnya pada beberapa pertandingan tertentu. Dengan menganggap laga Derby Manchester ini bernilai ‘enam poin’ atau artinya lebih penting dari laga-laga lainnya, maka persiapan dan perlakuan taktiknya pun berbeda. Pellegrini memerhatikan sisi-sisi lemah United untuk kemudian dieksploitasi.

Sedangkan Moyes masih belum menemukan pilihan taktik yang pas sekaligus susunan pemain yang mampu menjalankan taktik pilihannya. Moyes dikritik karena mempertahankan sikap tidak mau merotasi pemainnya, meski United memiliki kedalaman skuat lebih baik dari klub yang dia tangani sebelumnya.

No comments:

Post a Comment