Soccer War (1992) Cerita Sang Jurnalis tentang Berdarahnya Sepakbola

Keterlibatan di Pandit Football Indonesia memberi kesempatan untuk menimba ilmu menambah pengetahuan, salah satunya lewat meresensi buku. Buku yang diresensi ini pertama kali dikenalkan oleh Ivan Aulia Ahsan, teman kos yang mengagumi penulis bukunya, Ryszard Kapuscinski. Tulisan ini menjadi lebih apik berkat polesan Zen RS. Terpublikasi pertama kali di kanal About The Game di situs detik.com. Klik di sini.

***

Judul Buku: The Soccer War
Penulis: Ryszard Kapuscinski
Penerbit: Vintage International
Tahun: 1992
Tebal: 234

"Satu-satunya kesempatan bagi negara-negara kecil Dunia Ketiga untuk menarik perhatian dunia internasional adalah ketika mereka memutuskan untuk saling menumpahkan darah."


Meski berjudul The Soccer War, buku ini bukan buku bertema khusus sepakbola. The Soccer War adalah salah satu bab dalam keseluruhan buku yang berisi kumpulan petualangan, pengalaman dan reportase penulisnya dalam mengikuti dan mengalami langsung 27 peristiwa revolusi selama tahun 1960-an dan awal 1970 di negara-negara Afrika, Amerika Tengah, Timur Tengah dan lainnya.

Dalam buku yang setiap babnya menceritakan peristiwa revolusi di berbagai negara yang berbeda, bab berjudul The Soccer War [yang lantas menjadi judul buku ini] mengisahkan perang antara Honduras dan El Salvador yang dipicu oleh pertandingan sepakbola kualifikasi Piala Dunia 1970. Peristiwa yang sangat menarik dan amat mungkin ditulisnya sebagai sebuah buku tersendiri.

Ada banyak tulisan yang mengulas tentang perang sepakbola Honduras-El Salvador ini. Namun, kisah yang disampaikan Kapuscinski memiliki perbedaan dibanding lainnya. Kapuscinski menjadi salah satu jurnalis, jika bukan satu-satunya, yang berada di Honduras saat serangan pertama angkatan udara El Salvador menghujani Honduras dengan bom.

Kapuscinski sendiri merupakan sosok yang unik. Dia dianggap memiliki genre tersendiri yang disebut magic journalism. Istilah yang diciptakan untuknya oleh Adam Hochschild pada tahun 1994. Sedangkan Kapuscinski sendiri menyebutnya literary reportage atau reportase sastra atau yang lebih populer dengan sebutan literary journalism atau jurnalisme sastrawi.

Reportase-reportase disampaikan dengan cara yang unik, menggunakan alegori dan metafora untuk menyampaikan apa yang terjadi. Tapi genre penulisan ala Kapuscinski ini disebut literary [sastrawi] bukan karena dia menggunakan kalimat atau kata-kata yang indah dan berbunga-bunga layaknya puisi. Sebuah tulisan disebut literary journalism karena dia mengadopsi elemen-elemen cerita yang lazim kita temukan dalam karya fiksi: detil, adanya konflik, ada penokohan dan karakterisasi, ada gambaran suasana yang hidup dan rinci, penggunaan teknik plot, dll.

Hanya orang dengan etos jurnalisme yang kuat yang bisa mengerjakan genre ini. Sebab, kendati mengadopsi elemen-elemen dalam sastra di atas, toh semua materi tulisannya harus berdasarkan fakta, kenyataan dan tak boleh dikarang-karang. Jadi si penulis harus melakukan reportase secara meyakinkan, detail, menyeluruh sampai pada remeh-temeh yang mungkin dianggap tak penting: seperti gerak jari si tokoh, posisi lampu di kamar, atau cara meletakkan tissue di meja.

Itulah sebabnya Kapuscinski pernah menyebut kalau jurnalisme baginya bukanlah suatu karier atau semata pekerjaan, tapi juga sebuah misi, suatu tugas, yang mesti ditunaikan dengan sebaik-baiknya. Jangan heran jika tempat-tempatnya bertugas adalah tempat yang penuh risiko, tempat yang penuh dengan konflik dan peperangan, atau berbahaya karena kemiskinannya yang akut dan mengerikan.

Dengan pengantar singkat tentang Kapuscinski macam itulah kita bisa memahami bagaimana Kapuscinski mampu menghadirkan cerita yang sangat hidup tentang pertempuran Honduras dan El Salvador yang dipicu oleh pertandingan sepakbola.

The Soccer War atau Guerra Futbolistica adalah salah satu kisah besar bertema sepakbola yang melegenda seperti halnya Brasil yang gagal juara di hadapan 200 ribu pendukungnya di Maracana, atau setara dengan kisah-kisah tragis sepakbola lainnya.

Perang ini tentu saja dipicu oleh pertandingan sepakbola kedua negara yang sedang memperebutkan tiket ke Piala Dunia 1970 di Meksiko. Tapi akar masalahnya jauh lebih dalam dari itu. Konflik kedua negara sudah sangat tinggi, terutama terkait isu pengambilalihan paksa tanah milik imigran El Salvador yang tinggal di Honduras. Pemerintah Honduras saat itu sangat ingin mengambilpaksa dan memberikannya pada warga "asli" Honduras.

Kapuscinski memulai kisah dengan menyebut prediksi dari Luis Suarez yang mengatakan akan terjadi perang antara El Salvador dan Honduras setelah membaca berita yang melaporkan dua pertandingan kualifikasi itu. Luis Suarez merupakan jurnalis teman Kapuscinski yang tinggal bersama di Meksiko. Luis memberi pelajaran pada Kapuscinski tentang Amerika Latin dan bagaimana memahaminya. Luis digambarkan sebagai seseorang yang memiliki prediksi akurat, memprediksi kejatuhan Goulart di Brasil, diktator Bosch di Republik Dominika dan rezim Jimenez di Venezuela. Termasuk tentang kembalinya Peron sebagai Presiden Argentina, dan masa sudden death diktator Haiti, Francois Duvalier, di saat yang lain mengira Papa Doc –-julukan untuk Duvalier-- waktu itu masih memiliki banyak waktu. Intinya, Luis sangat paham politik di Amerika Latin.

Pun dengan dua pertandingan sepakbola itu, Luis menyatakan keyakinannya akan perang yang segera menjelang pada saat dunia tidak menaruh perhatiannya pada apa yang sedang terjadi. Pada pertandingan pertama di ibukota Honduras, Tegucigalpa, tuan rumah menang di menit terakhir. Pada saat yang bersamaan, gadis 18 tahun, Amelia Bolanos, yang melihat melalui televisi ketika striker Honduras Roberto Cardona mencetak gol penentu, mengambil pistol ayahnya dan bunuh diri dengan menembak tepat di jantungnya. Esoknya harian El Salvador, El Nacional menulis "Gadis muda tidak tahan melihat tanah airnya bertekuk lutut".

Pada masa perang 100 jam itu, Kapuscinski yang pada keseluruhan perang berada di Honduras melaporkan pandangan matanya tentang graffiti-grafiti yang terdapat di Tegucigalpa. Salah satunya adalah "WE SHALL AVENGE THREE-NIL" berdasar pada kekalahan Honduras saat leg kedua di Stadion Flor Blanca, San Salvador. Pertandingan yang berakhir dengan kekacauan dan kerusuhan, dua pendukung Honduras tewas, 150 mobil dibakar. Beberapa jam kemudian, perbatasan kedua negara pun ditutup.

Buku tersebut banyak menyebut tentang kebiasaan-kebiasaan yang umum terjadi pada sepakbola di Amerika Latin. Melalui Luis, disebut bahwa di Amerika Latin, batas antara sepakbola dan politik adalah samar. Maka bukan yang hal aneh jika Honduras dan El Salvador yang memang sudah memiliki ketegangan akibat persoalan non-sepakbola, menemukan lahan suburnya di sepakbola.

Pemakaman Amelia Bolanios, gadis yang bunuh diri itu setelah menyaksikan kekalahan negaranya di televisi, dihadiri presiden dan para menterinya, prosesi pemakamannya pun melibatkan para tentara. Ini adalah seremonial yang menautkan antara sepakbola, politik, sentimen nasional dan kebencian.

Praktek lain yang dianggap biasa di Amerika Latin adalah teror pada tim lawan jelang pertandingan. Baik tim El Salvador dan Honduras mendapat teror saat mereka bertandang sejak mereka hadir di hotel tempat mereka menginap. Kerumunan pendukung tuan rumah melempari kaca kamar hotel mereka dengan batu juga telur busuk. Teriakan, siulan dan ledakan petasan sepanjang malam. Idenya adalah tim yang kurang tidur, gelisah dan kelelahan pasti akan kalah.

Hal lain yang disebut tentang Amerika Latin adalah fungsi ganda stadion. Pada masa damai, stadion sepakbola adalah venue olahraga, sedangkan pada masa perang akan menjadi kamp konsentrasi atau bahkan kamp pengungsian.

Buku ini secara keseluruhan memang minim karena memang bukan buku yang bertema khusus sepakbola, namun banyak menyumbang informasi terkait perang sepakbola El Salvador-Honduras dan kebiasaan-kebiasaan sepakbola yang membantu pemahaman kita tentang sepakbola di Amerika Latin, karena beberapa kebiasaan masih berlanjut hingga saat ini.

Buku berbahasa Inggris yang diterjemahkan oleh William Brand dari bahasa Polandia terbit pada tahun 1992, sedangkan versi Polandia yang berjudul 'Wojna Futbolowa' terbit 1978. Beberapa tahun kemudian, tepatnya 2004 terbit buku 'How Soccer Explains the World: The Unlikely Theory of Globalization’' oleh seorang jurnalis New Republic, Franklin Foer. Sulit untuk tidak menyimpulkan bahwa buku yang diterbitkan oleh HarperCollins itu membawa warna reportase ala Kapuscinski.

Jika apa yang dimulai oleh Kapuscinski dan yang dilanjutkan oleh Foer juga diikuti oleh para penulis sepakbola dewasa ini, maka gemuruh sepakbola bisa lebih tertangkap. Bukan sekadar tulisan hasil studi pustaka yang berjarak dan kaku.

Sementara bagi Kapuscinski, buku berjudul Soccer War ini, terutama bab tentang perang Honduras vs El Salvador, adalah pemenuhan terhadap masa lalunya yang memang penuh konflik. Dan konflik di masa lalunya itu pun tidak bisa tidak memang terkait dengan sepakbola.

Masa kecilnya di Pinks, dulu wilayah Polandia sekarang jadi wilayah Belarus, diwarnai adegan yang tak mungkin dilupakan. Dikisahkannya dalam tulisan menyentuh berjudul When There Is Talk of 1945, dia menulis begini: sepulang sekolah, dia bermain dengan teman-teman masa kecilnya. Saat bola terlempar ke arah semak-semak, salah seorang rekannya masuk ke semak-semak itu untuk memungut bola. Lalu tiba-tiba semak-semak itu meledak oleh bom. Teman masa kecilnya tewas saat sedang bermain bola.

Soccer War mengabadikan pengalaman dan ingatan Kapuscinski tentang sepakbola sebagai bagian dari kekerasan, perang dan politik.

No comments:

Post a Comment