Allenatore, Penjaga Jati Diri Liga Italia



Pengantar
Sebagai penggemar calcio dan timnas Italia, selalu tersimpan motivasi tersendiri untuk sekali waktu bisa menulis tentangnya lagi. Meski sudah kalah glamour dibanding Liga Inggris dan Spanyol, selalu ada yang menarik dari Italia. Ada kesan romantisme kala membahas masa renaisans sepak bola Italia pada era 1990an. Tulisan ini nampang pertama kali di kanal About The Game di situs detik.com. Klik di sini.

***

Liga Italia Serie A pernah mengecap masa kemapanan il campionato nel dopoguerra yang membuatnya terpacak sebagai liga terbaik di Eropa bahkan dunia. Namun, memasuki pergantian millenium status itu perlahan tanggal.


Meski begitu, di tengah gamblangnya pemandangan turunnya kualitas Liga Italia dalam satu dekade terakhir ini, liga itu tetap mempertahankan kekayaan yang tersisa dari budaya sepakbola Italia: varian taktiknya.

Hal inilah yang membuat setiap pertandingan di Liga Italia lebih merupakan adu taktik ketimbang adu teknik atau adu kecepatan. Pertandingan akan berjalan ketat dan hati-hati sehingga kemenangan tidak datang dengan mudah.

Di satu sisi, pemujaan terhadap taktik itu bisa menjadi kuburan bagi pemain-pemain yang tak terbiasa dengan variasi formasi. Tapi di sisi lain, keragaman taktik ini sudah menjadi jati diri sepakbola Italia, yang menjadikan negara ini empat kali menggondol Piala Dunia.

Lalu siapa yang berperan besar dalam menjaga jati diri ini? Tentu para pelatih atau allenatore. Mereka terus mengembangkan taktik, menurunkan varian-varian baru. Antonio Conte misalnya, memiliki sedikitnya empat varian taktik selama menukangi Juventus. Maka bisa dibayangkan berapa banyak sistem permainan yang dipakai oleh klub-klub peserta Liga Italia.

Allenatore: Koki yang kreatif

Kata allenatore bisa dipadankan dengan trainer dan coach. Namun, coach lebih lazim dipakai di Italia untuk mendefinisikan baik arti maupun peran allenatore.

Saat ini allenatore merupakan koordinator tim pelatih yang terdiri dari disiplin bidang yang berbeda. Ia terlibat dalam tugas melatih tim utama untuk meningkatkan kemampuan teknik para pemain yang dibelikan untuknya, serta menyiapkan tim untuk bermain sesuai formasi dan taktik yang diinginkannya. Hal ini tak lepas dari sejarah yang melatari munculnya peran allenatore.

Ini bermula dari kedatangan William Garbutt, pria Inggris yang datang ke Italia setelah usainya Perang Dunia Pertama untuk mengajarkan sepakbola. Cara kerja yang dilakukan Garbutt saat itu di sebuah klub di Genoa adalah tipikal kerja 'pelatih' di Inggris, yakni melatih para pemain tim utama.

Garbutt mengajarkan dua tugas pokok, yakni kemampuan dasar dan konsolidasi kelompok. Mengajarkan kemampuan dasar adalah mengasah dan meningkatkan kemampuan teknik para pemain. Sedangkan konsolidasi kelompok merupakan upaya untuk menciptakan ruang ganti yang kondusif, memastikan tim memainkan taktik dan formasi yang ditetapkan.

Dalam struktur organisasi klub Italia, allenatore bertanggung jawab langsung pada presiden klub yang mengangkat dan memberhentikannya. Dalam menjalankan perannya, allenatore banyak bekerja sama dengan direktur olahraga (atau manajer umum, atau direktur sepakbola) yang tugasnya menangani transfer dan kontrak pemain.

Ini berbeda dengan Inggris. Manajer di Inggris memiliki tugas dan peran yang lebih rumit, seperti mengurusi transfer dan kontrak pemain. Meski saat ini, beberapa klub di Inggris mulai menerapkan struktur klub ala Eropa Kontinental, yang mereduksi peran manajer klub dan menghadirkan sosok direktur olahraga.

Jika menggunakan analogi seorang koki, manajer di Inggris adalah koki yang memilih sendiri bahan dan bumbunya di pasar. Sedangkan allenatore di Italia adalah koki yang memasak segala bahan dan bumbu yang sudah disediakan.

Renaisans Serie A
Keleluasaan pada area teknik serta keterbatasan dalam menentukan sendiri bahan (pemain), membuat allenatore kreatif dalam utak atik taktik. Secara implisit, ini bersesuaian dengan karakter masyarakat Italia pada umumnya, yakni kreatif.

Memang, berkat kreativitas-lah para seniman, ilmuwan dan pemikir yang didukung oleh para keluarga kaya, atau "maecenas", Italia menjadi asal mula gerakan renaisans pada abad 15-16. Dan dengan kreativitas pula para allenatore yang didukung dana oleh para pemilik klub menghasilkan pelbagai variasi taktik sepakbola.

Renaisans sendiri adalah gerakan yang lahir lewat kreativitas seni, sastra, dan arsitektur. Dahulu, keluarga kaya seperti Medici melakukannya untuk para seniman, ilmuwan dan pemikir seperti Michaelangelo, Leonardo da Vinci, Raphael, Dante. Sementara di Serie A, para pemilik klub yang notabene para keluarga kaya, melakukannya untuk para allenatore-nya.

Salah satu contoh adalah Silvio Berlusconi, pemilik klub AC Milan. Dia membeli AC Milan pada 1986. Setahun kemudian ia merekrut Arrigo Sacchi dari AC Parma, seorang allenatore muda yang obsesif dengan taktik.

Layaknya "maecenas" alias keluarga kaya di abad 15-16 yang mengucurkan dana kepada para seniman untuk berkreativitas, Berlusconi pun memberi kucuran dana yang berlimpah sebagai bentuk dukungan pada kreativitas allenatore barunya itu.

Berlusconi menghadiahi Sacchi dengan para bintang Belanda yakni Ruud Gullit, Frank Rijkaard dan Marco Van Basten. Juragan media ini juga memberikan pemain yang dipinta oleh Sacchi seperti Roberto Donadoni, dan Carlo Ancelotti. Kompleks latihan Milanello pun dilengkapi dengan fasilitas gymnasium yang menjadi tempat untuk menggembleng fisik pemain supaya fasih memainkan permainan sesuai taktik sang allenatore.

Itulah masa renaisans di sepakbola Italia. Periode waktu ketika Milan dengan Berlusconi dan Sacchi membawa perubahan besar pada sepakbola Italia. Ketika watak catenaccio mewabah di hampir seluruh klub, Milan menyuguhkan sepakbola yang menyerang. Sepakbola yang indah.

Sepakbola Italia adalah sepakbola bertahan hingga Sacchi datang mengubahnya. Sacchi memainkan 4-4-2 dengan high defensive line. Permainan menyerang Milan jadi salah satu pertahanan terbaik dunia saat itu. Lawan ditekan di daerah pertahanan mereka sendiri. Permainan menekan yang kelak kemudian diikuti oleh Barcelona milik Pep Guardiola dan Bayern Munchen-nya Jupp Heynckes.

Perihal membiakkan kreativitas ini, otoritas tertinggi sepakbola Italia (FIGC) pun menunjukkan dukungannya dengan membangun Coverciano. Adanya Coverciano, membantu pertumbuhan "populasi€™" pelatih di Italia semakin pesat. Di sanalah para pelatih muda belajar, berdiskusi dan menggali ide-ide terbaru.

Salah seorang jurnalis Inggris, Dan Roan, pernah berujar bahwa Coverciano lebih dari sekadar markas sepakbola Italia. Tapi tempat itu juga merupakan perwujudan keyakinan, bahwa seni dan sains sepakbola adalah disiplin yang bisa dipelajari dan dikuasai, dan kemudian disebarkan demi kemajuan sepakbola secara keseluruhan.

Beberapa lulusan Coverciano seperti Fabio Capello, Giovanni Trapattoni, Marcello Lippi, Carlo Ancelotti, dan Claudio Ranieri sekarang berkiprah di tim nasional negara lain dan klub-klub terkemuka di liga negara lain. Mereka menjadi representasi penjaga reputasi sepakbola Italia.

Obsesi Taktik dan Machiavellian
Sepakbola Italia memang terobsesi dengan taktik, masyarakatnya baik pria maupun wanita semuanya "berbakat" menjadi pelatih sepakbola. Bahkan, allenatore baru Napoli, Rafa Benitez mengakuinya dengan mengatakan: "Saya mendapat lebih banyak pertanyaan tentang taktik selama 20 menit di sini (Italia), daripada waktu saya setahun di Inggris."

Obsesi pada taktik tidak hanya membuat para allenatore membuat varian sistem permainan, tetapi juga jadi penemu beberapa peran baru dalam lapangan. Carlo Mazzone menjadi penemu peran deep-lying playmaker (midfielder) di Brescia dengan Andrea Pirlo sebagai pemerannya. Lalu ada Luciano Spaletti yang dianggap sebagai orang pertama yang mengenalkan peran "False 9" saat bersama AS Roma.

Baik Mazzone dan Spaletti meneruskan tradisi inovatif seperti yang dilakukan para pendahulunya, seperti Vittorio Pozzo dan Nereo Rocco, dua allenatore yang inovasi taktiknya menghasilkan metodo dan catenaccio.

Selain itu, sadar atau tidak sadar, para allenatore merupakan para Machiavellian, atau orang yang menggunakan kepiawaian tingginya untuk merebut kemenangan, dan kemudian mempertahankan kekuasaan sebagai juara. Hal ini seide dengan sepakbola Italia yang berorientasi pada hasil.

Salah satu pelatih besar Italia, Giovanni Trapattoni mengakuinya dengan pernyataan terkenalnya "Our football is prose, not poetry." Maka wajar jika Conte terus berinovasi dengan taktiknya untuk mempertahankan gelar scudetto.

Bukan tanpa sebab jika klub-klub Italia cukup percaya diri menggunakan jasa pelatih lokal. Saat ini, di antara empat liga terkemuka Eropa, Serie A menjadi liga dengan jumlah pelatih asing paling sedikit. Hanya ada Vladimir Petkovic (Bosnia-Herzegovina) di Lazio, Rafael Benitez (Spanyol) di Napoli dan Rudi Garcia (Prancis) di Roma.

Sementara itu, Bundesliga memberi tempat pada Pep Guardiola (Spanyol) di Bayern Munchen, Sami Hyypia (Finlandia) di Bayer Leverkusen, Jos Luhukay (Belanda) di Hertha Berlin, dan Lucien Favre (Swiss) di Borussia Monchengladbach.

Di La Liga sendiri ada enam klub yang memasrahkan urusan meramu taktik pada warga non-Spanyol, yakni Atletico Madrid, Barcelona, Real Madrid, Espanyol, Malaga dan Valencia. Sedang di Premier League, manajer Inggris justru yang bisa dihitung dengan jari.

No comments:

Post a Comment