Review Match Liga Champions: Barca Hukum Kesalahan Milan



Pengantar
Tulisan ini pertama kali tampil di kanal About The Game di situs detik.com. Klik di sini.

***

Juara Liga Champions dua kali dalam lima musim terakhir, Barcelona, memastikan diri lolos dari fase grup seusai menang 3-1 atas AC Milan di Camp Nou, Kamis (7/11/2013) dinihari WIB. Dua gol Lionel Messi dan gol dari sundulan Sergio Busquets hanya bisa dibalas oleh satu gol bunuh diri Gerard Pique di akhir babak pertama.

Dengan tambahan dua gol, pundi-pundi Messi di Liga Champions pun sudah mencapai 65 gol. Ia semakin mendekati rekor gol terbanyak Liga Champions, 71 gol, milik Raul Gonzalez.


Untuk Milan, hasil ini memperpanjang catatan tanpa kemenangan dalam lima laga terakhir di semua ajang kompetisi. Rentetan tanpa kemenangan ini dimulai sejak mereka ditahan imbang 1-1 oleh Barcelona di San Siro.

Dalam laga yang dipimpin oleh wasit Milorad Mazic, Barcelona tidak hanya unggul secara hasil tetapi juga mendominasi permainan. Para pemain asuhan pelatih Gerardo 'Tata' Martino ini merajai penguasaan bola dan menciptakan banyak peluang gol atas lawannya yang cenderung bertahan.

Tendensi Bertahan Milan
Dominasi Barcelona dalam permainan sedikit banyak dipengaruhi oleh tendensi Milan untuk bertahan. Memulai pertandingan dengan menggunakan formasi 4-4-1-1, Massimiliano Allegri hanya menempatkan Robinho dan Kaka di depan.

Terlepas dari terbatasnya pilihan pemain, di sisi sayap Milan sendiri menempatkan pemain tengah murni seperti Sulley Muntari dan Andrea Poli. Ini dilakukan untuk menghentikan Barca dari poros tengah. Milan mengorbankan satu striker demi menambah orang di lini tengah.



Atas pilihan untuk bertahan, nampaknya Allegri berkaca pada leg pertama. Kala itu, Milan mencetak gol melalui serangan balik kombinasi antara Kaka dan Robinho. Fakta lainnya, tiga dari sembilan gol yang bersarang di gawang Barcelona merupakan hasil dari serangan balik. Maka pilihan bertahan dan menggunakan serangan balik sebenarnya bisa dibenarkan.

Milan cukup sukses menahan serangan Barcelona dengan tidak membiarkan mereka memasuki area kotak penalti. Keberadaan Muntari dan Poli membantu tugas Riccardo Montolivo dan Nigel De Jong menyaring serangan Barcelona. Selama babak pertama, berkali-kali umpan-umpan dari para pemain Xavi cs berhasil ditangkal oleh delapan pemain Milan yang menumpuk di sepertiga lapangan akhir.

Grafis di bawah ini memperlihatkan bahwa Barcelona cenderung mengalirkan umpan ke sayap kanan maupun kiri. Sebaliknya, bola dari sayap dikembalikan ke tengah akibat rapatnya pertahanan yang dibangun para pemain Milan. Di sini kedua fullback Milan, Ignazio Abate dan Urby Emanuelson juga disiplin bertahan di sepertiga pertahanan sendiri.



Rapatnya jarak antar pemain Milan dalam bertahan juga membuat para jagoan dribbling Barcelona sering gagal melewati lawannya. Terdapat 18 upaya dribbling dari para pemain Barcelona dengan hanya delapan yang berhasil dan semuanya terjadi di luar area penalti Milan.



Pressing Ketat Namun Banyak Pelanggaran
Gol pertama Barcelona merupakan buah pencarian para pemain Barcelona di area pertahanan Milan. Upaya menerobos area penalti Milan yang selalu gagal melalui dribbling dan umpan-umpan yang patah akibat pressing ketat para pemain Milan, dipecah dengan umpan lambung ke arah kotak penalti.

Adalah Andres Iniesta yang mengirim umpan lambung ke kotak penalti Milan untuk Neymar. Upaya Neymar menyambut umpan tersebut mendapat gangguan dari Abate sehingga berbuah hukuman penalti. Jatuh yang mungkin sedikit berlebihan, namun tidak menimbulkan banyak protes dari pemain Milan.

Lagi-lagi pelanggaran menjadi awal terciptanya gol kedua Barcelona. Selang sembilan menit setelah gol Messi dari titik penalti, Montolivo melakukan pelanggaran tidak perlu pada Neymar. Eksekusi tendangan bebas Xavi pun menemukan Busquets yang tidak terkawal.

Pressing ketat Milan yang sebenarnya sukses menangkal serangan Barcelona, terlihat mubadzir karena pelanggaran-pelanggaran yang memberi kesempatan lawan mencetak gol. Milan seakan mengulangi kesalahan saat kalah dari Fiorentina pada laga tiga hari sebelumnya di Seri A.

Pressing serta penjagaan ketat oleh Milan memang tak bisa lepas dari resiko pelanggaran. Dalam laga di Camp Nou, pada babak pertama Milan membuat sepuluh pelanggaran. Dua di antaranya berbuah menjadi gol Barca.



Balotelli dan Fabregas yang Mengubah Permainan
Pada paruh kedua, Allegri memasukkan Mario Balotelli menggantikan Robinho yang tidak berkutik di babak pertama. Dengan posisinya yang terisolir, Robinho menghasilkan minim kontribusi yaitu sebanyak 23 sentuhan.

Dengan bermain bertahan, Milan sendiri lebih mengandalkan umpan-umpan panjang pada Robinho dalam menyerang. Taktik ini sebenarnya kurang pas, karena Robinho bukan seorang targetman yang bisa menahan bola dengan baik, atau memiliki kecepatan untuk mengejar bola.

Masuknya Balotelli di babak kedua membuat Milan beberapa kali menciptakan peluang. Lima menit setelah masuk, Balotelli membuat peluang dengan tendangan dari sudut sempit. Empat belas menit berselang, setelah melewati Adriano dan Javier Mascherano, Balotelli memberi umpan tarik pada Kaka. Sayang penyelesaian Kaka masih melebar.

Selain dua peluang tersebut, kontribusi Balotelli lainnya adalah membuat permainan Milan membaik dengan berbagai indikasi seperti passing yang meningkat sebanyak 215 dengan 178 di antaranya sukses, lalu kreasi peluang tercipta sebanyak tiga dibandingkan babak pertama yang hanya satu. Meski, secara keseluruhan, Barcelona masih menguasai jalannya permainan.

Berkembangnya permainan Milan dengan beberapa peluang yang tercipta ini dibaca Tata Martino dengan memasukkan Cesc Fabregas. Dua belas menit sebelum pertandingan berakhir. Selain menambah energi baru, masuknya Fabregas memberi dimensi baru dalam permainan Barca.



Fabregas bermain lebih ke tengah untuk membantu Messi lepas dari keroyokan pemain-pemain Milan. Dampaknya pun instan. Umpan satu duanya dengan Messi lantas menjadi gol keenam Messi di Liga Champions musim ini dan membuat Milan semakin sulit mengejar ketertinggalan dua gol. Fabregas bahkan kembali menciptakan peluang untuk Messi pada menit ke-89, namun tendangan dari tengah kotak penalti itu masih bisa diblok.

Kesimpulan
Tidak ada yang berubah dalam cara Barcelona bermain dengan gaya khas Tata Martino. Barcelona dengan nyaman memainkan dan menguasai bola.

Namun Messi cs juga tidak dengan mudah untuk membuka pertahanan Milan. Pada akhirnya, gawang Milan jebol karena pelanggaran-pelanggaran yang dibuat para pemainnya. Babak kedua menjadi lebih menarik dengan beberapa perubahan dan pergantian pemain yang dilakukan oleh kedua pelatih.

Dengan kekalahan pertama di ajang Liga Champions ini, Milan tinggal berselisih satu poin dengan Ajax dan berselisih dua poin dengan Celtic yang akan menjadi lawan-lawan mereka selanjutnya. Kesalahan-kesalahan dalam bertahan dan tidak produktifnya pemain Milan di dua laga terakhir menjadi tugas Allegri untuk dibenahi.

Keberadaan pelatih baru di Barcelona ternyata tidak membuat Barcelona berubah banyak. Barcelona masih tetap dominan dan produktif mencetak gol. Kemenangan ini menjadi bekal untuk bertandang ke kandang Real Betis di ajang liga domestik.

No comments:

Post a Comment