Keadilan untuk Gerrard



Liverpool dalam jalur juara, Steven Gerrard dalam salah satu performa terbaiknya. Kemenangan drmatis 3-2 atas Manchester City diakhiri oleh adegan monumental saat Gerrard menyerukan kepada rekan-rekan setimnya untuk kembali fokus lalu menangis. Artikel tayang di situs resmi Liverpool FC Berbahasa Indonesia indonesia.liverpoolfc.com klik di sini.

***

Apa yang Anda rasakan saat melihat Steven Gerrard menangis, tak kuasa membendung air mata sesaat setelah peluit panjang dibunyikan oleh Mark Clattenburg pada laga malam lalu? Sebuah pemandangan langka dan menyentuh, mengingat sosok ini bisa nyaris tanpa emosi mengeksekusi penalti kemenangan di menit-menit tambahan waktu di Craven Cottage, sanggup dengan dingin mengeksekusi tiga penalti, dua di antaranya berhasil, di bawah tekanan Old Trafford, dan beberapa penalti menentukan lainnya seperti brace penalti di Boleyn Ground dua pekan lalu.


Sepanjang karirnya dalam jatuh bangunnya Liverpool, tak cukup sering ada momen emosional seperti itu. Atau justru tidak ada? Setidaknya sore itu menjadi salah satu sore terpenting dalam hidup Stevie G.

Bulan lalu, Gerrard baru saja meraih penghargaan Player of the Month untuk keenam kali sepanjang karirnya. Tapi saat ini adalah musim ke-16 baginya dan pada kolom bagian raihan trofi masih saja kosong. Tidak adil untuk seorang yang telah tampil 471 kali, mencetak 111 gol, dan mencatatkan 452 asis di ajang Premier League ini.

Captain Fantastic ini jelas lebih dari pantas untuk mendapatkan gelar juara Premier League. Rekannya, Daniel Sturridge sendiri yang mengatakan dengan tegas: ‘Jika ada pemain yang pantas mengakhiri karirnya dengan kalungan medali juara Premier League dan Piala Dunia, Steven Gerrard orangnya.”

Kapasitas dan kebintangannya menjulang. Secara skill tak perlu diragukan karena begitu banyak momen-momen ajaib yang tercipta karena ketinggian kemampuan tehnik sepakbolanya. Dia bintang yang membuat para pemain di sekelilingnya berkembang, meningkatkan tim secara keseluruhan. Tentu kita tidak lupa pernyataan Zinedine Zidane, pada pertengahan Maret 2009, tentang kapten timnas Inggris ini. “Dia mungkin tidak memeroleh perhatian layaknya (Lionel) Messi dan (Cristiano) Ronaldo, tapi iya, saya pikir dia juga pemain terbaik dunia. ” Dia sosok terhormat dalam jagat sepak bola dunia.

Layaknya para pemain terbaik dunia, dia juga merengkuh Si Kuping Besar, trofi Liga Champions. Yang didapatkannya dengan cara yang hebat, melalui final dramatis di Istanbul, laga yang dilabeli dengan “the best come back ever” diinisiasi dari golnya pada menit 54. Setahun berselang, inspirasinya kembali mencuat pada final Piala FA.

Kurang mentereng apa catatan prestasinya dari segi statistik? Tampil 665 laga dengan 173 gol, Stevie G mengumpulkan 11 trofi.  Untuk timnas Inggris, 109 laga sudah dilakoni, 21 gol sudah disumbangkan. Bahkan ban kapten Three Lions sudah secara reguler melilit di lengannya sejak tahun 2010.

Tapi yang diberikan Gerrard tidak hanya yang tercatat dalam statistik penampilan seperti di atas. Jika kita melihat dia berurai air mata, lalu dengan lantang mengingatkan dan membakar semangat kepada rekan-rekannya yang berada dalam lingkaran rangkulannya, juga secara emosional meminta para suporter untuk terus bernyanyi. Pria ini tak hanya memberikan kemampuan teknis dan non-teknis sepakbolanya, pria ini memberikan jiwa dan raganya untuk Liverpool, dia memberikan segalanya untuk klub dan pendukungnya.

Pada tanggal 11 Mei nanti, apakah keadilan itu akan tegak? Untuk pemain dengan skill sebagus itu, dengan inspirasi dan karisma kepemimpinan yang luar biasa besar, dengan kesetiaannya menanggung beban tim nyaris sendirian. Untuk pria yang memilih menjadi pesepakbola karena Jon-Paul Gilhooley, sepupunya yang meninggal pada Tragedi Hillsborough 25 tahun yang lalu.

Justice for Gerrard!

No comments:

Post a Comment