Harapan Bernama Brendan



Artikel ini ditulis seiring kebangkitan Liverpool pada paruh kedua, terutama karena performa dan hasil dari 10 laga terakhir. Telah tayang di situs resmi Liverpool FC Berbahasa Indonesia indonesia.liverpoolfc.com klik di sini.

***

Sebelum menangguk 24 poin dari 10 pertandingan terakhir, Liverpool mengalami masa-masa penuh cobaan dan ujian. The Reds diterpa pancaroba, suatu keadaan tidak menentu dan kacau. Kita lihat kembali, 16 laga di liga yang "hanya" menghasilkan 21 poin. 16 laga yang hampir separuhnya berakhir dengan kekalahan, tujuh kali kalah. Kita melihat wujud Liverpool sebagai sebuah tim yang ompong di depan, mudah jebol di pertahanan.


Persoalan tersebut sudah dimulai sejak awal musim lalu. Luis Suarez memilih memulai hidup baru di Barcelona. Celakanya, Daniel Sturridge yang sempat mencetak gol kemenangan di laga pembuka musim juga kemudian ikut menghilang, lima bulan untuk memulihkan cedera. Sementara kita belum bisa terlalu berharap banyak kepada Mario Balotelli. Tak ada tombak tajam di depan, tak heran "hanya" 19 gol yang bisa dicetak.

Hadiah persoalan lain muncul dalam wujud pertahanan yang rapuh. Dalam 16 laga pertama, Liverpool sudah jebol sebanyak 22 kali atau rata-rata 1,4 per laga. Dengan demikian Liverpool defisit tiga gol. Andai terus seperti itu, bukan hanya peluang lolos ke Eropa yang gagal, tetapi The Reds bisa saja sedang berjuang di zona degradasi.

Tetapi sekali lagi, persoalan-persoalan itu hadiah. Ibarat kado, sesuatu yang harus diterima dan dilihat isinya. Brendan Rodgers adalah tipikal seorang pelatih pembelajar, dengan mengidentifikasi berbagai masalah tim lalu berupaya memperbaikinya dengan mengeluarkan potensi terbaik dari tim yang ada. Berkali-kali kita disuguhi fakta betapa adaptifnya dia dengan perubahan, belajar dari kekurangan untuk kemudian menuai hasil yang lebih baik.

Menengok kembali masa ketika Rodgers mulai masa jabatannya di Anfield pada 1 Juni 2012 menggantikan Kenny Dalglish dengan tujuan mengembalikan klub ke puncak sepak bola Inggris dan Eropa. The Reds memerlukan enam pertandingan untuk mencatatkan kemenangan liga pertama di bawah Rodgers. Setelah terseok-seok, The Reds mulai stabil di paruh kedua musim, bahkan berlanjut pada musim berikutnya yang membuat Liverpool nyaris menjadi juara.

Hal yang serupa terjadi saat Rodgers memulai karier manajerialnya dengan menukangi Watford. Pria Irlandia Utara itu memantapkan laju kapal Watford setelah awal yang bergolak pada musim 2008-09 dan akhir meyakinkan dengan menyelesaikan di peringkat 13 di liga.

Kemudian apa yang Rodgers lakukan pada tim sehingga membuat tim tak pernah kalah dalam 10 laga liga atau kalah sekali dalam 18 laga terakhir seperti itu?

Semua bermula dari penggunaan formasi tidak lazim 3-4-3 yang dipakai pertama kali kala bertandang ke Old Trafford. Hasilnya memang kalah, namun penampilan The Reds membaik drastis. Rodgers melihat kerapuhan pada sisi pertahanan dan tidak tajamnya penyerangan pada formasi sebelumnya, 4-4-2 diamond. Meski formasi tersebut nyaris membawa Liverpool merengkuh gelar liga ke-19, namun ada kalanya formasi tak lagi relevan untuk memetik kemenangan demi kemenangan.

Kebijakkan penting lain dari pria 42 tahun adalah memainkan kembali Lucas Leiva. Sosok inilah yang memberikan dimensi ketangguhan di lini tengah seiring menuanya Steven Gerrard. Serangan lawan tidak lagi menembus langsung dan mencecar bek-bek Liverpool, lawan tidak lagi leluasa mengancam dari lini tengah Liverpool yang lowong.

Persoalan lain yang diselesaikan oleh Rodgers adalah stok bek sayap bagus yang terbatas, banyak dari mereka yang didera cedera. Inilah salah satu titik lemah yang membuat pertahanan Liverpool kerap dihujani umpan-umpan silang.

Pada prinsipnya, ide Rodgers kali ini ingin menciptakan keseimbangan pada tim, antara pertahanan dan penyerangan menyesuaikan dengan potensi yang dimiliki tim. Mencoba sistem baru juga membutuhkan penggawa yang pas sebagai pelaksananya.

Rodgers menilai Emre Can sebagai sosok yang pas pada formasi tiga bek tengah. Meski terbiasa sebagai pemain tengah, potensinya terlihat sebagai bek yang tangguh dengan kemampuan membaca serangan sekaligus menginisiasi serangan. Bukan tidak mungkin, jika Can bisa menghidupkan lagi gaya bertahan elegan khas seorang libero yang pernah ditunjukkan Franz Beckenbauer, Gaetano Scirea, dan Franco Baresi di masa lalu. Mencuri bola dengan halus lalu melaju membawa bola ke depan. Pertunjukan seperti itu sudah beberapa kali kita saksikan.

Keputusan penting lain datang pada bursa transfer musim dingin lalu. Alih-alih membeli pemain baru, Rodgers memanggil pulang Jordon Ibe dari peminjaman di Derby County. Sejak diturunkan sebagai starter di Derby Merseyside, Ibe tak henti-hentinya membuat penampilan-penampilan menawan.

Memang masa-masa saat beberapa pemain gagal menampilkan performa terbaiknya perlahan mulai lewat. Selain memang butuh waktu untuk beradaptasi dan menyatu, kita dengan rendah hati semestinya mengakui adanya andil man management yang dilakukan oleh Rodgers. Para pandit di Eropa menyanjung Rodgers sebagai pelatih pintar, mampu meningkatkan para pemainnya secara taktis, fisik dan mental. Jordan Henderson, Sturridge, Philippe Coutinho, dan Sterling terbukti telah berkembang menjadi pemain yang lebih baik saat ini.

Dengan sederet bukti kompetensi tersebut, kesuksesan 'nyaris' juara musim lalu tentu bukan kebetulan. Dan seperti biasa mari kembali berharap tren menawan ini terus berlanjut hingga musim depan dan kemudian menuntaskan mimpi gelar ke-19. Harapan itu tersimpan pada nama Brendan.

No comments:

Post a Comment